Senin, 26 November 2012

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PENGELOLAAN OPT


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PENGELOLAAN OPT

Sejarah Pertanaman
Sejarah pertanaman merupakan hal penting bagi keputusan pengelolaan OPT.  Terdapat dua alasan mengapa hal itu penting.  Pertama, dengan diketahuinya sejarah pertanaman akan memberikan petunjuk yang berharga berkenaan dengan OPT yang kemungkinan akan hadir.  Konsep ini berlaku untuk semua OPT “soil-borne”, seperti nematoda, beberapa pathogen (mis, layu vertcillium, fusarium), gulma secara umum dan beberapa serangga hama (mis: ulat tanah, wireworm).  Kedua, dengan diketahui sejarah pertanaman juga akan dapat digunakan untuk berjaga-jaga bagi pengelola untuk mengatasi permasalahan yang mungkin muncul sebagai akibat penggunaan pestisida sebelumnya.  Pengaruh yang terbawa akibat penggunaan pestisida sebelumnya akan berkaitan dengan pembatasan jenis tanaman yang akan ditanam.

Ukuran dan Lokasi Lahan
Lokasi dan letak lahan akan menentukan pemilihan taktik pengendalian secara ketat.  Hal ini diperlukan sebagai bagian monitoring, dengan mencatat adanya factor-faktor yang dapat membatasi pilihan taktik.  Beberapa tipe faktor yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan adalah sebagai berikut :
1.      Pertanaman di sekitar
1.1.   Pertanaman di sekitar dapat sebagai sumber masalah hama, bila merupakan spesies yang mobile;  sebagai contoh: kepik Lygus, akan bermigrasi dari tanaman safflower menuju tanaman kapas segera setelah tanaman safflower tua
1.2.   Tanaman yang berdekatan atau pembatas ada kemungkinan sangat peka terhadap drift penyemprotan pestisida sehingga dapat membatasi pemilihan penggunaan pestisida.
2.      Areal di sekitar yang secara ekologis peka
2.1.   Terdapat habitat kehidupan liar atau refugia
2.2.   Terdapat spesies yang dapat terancam di wilayah itu
2.3.   Terdapat  aliran air dan sungai yang digunakan masyarakat
2.4.   Terdapat kondisi tanah/geologic yang dapat menambah resiko kontaminasi air tanah oleh pestisida.
3.      Lokasi perumahan dan sekolah serta struktur lainnya yang harus dipertimbangkan
4.      Ukuran lahan / pola pertanaman
4.1.   Pertanaman monokultur dalam luasan ratusan hektar akan menimbulkan kesulitan dalam pengambilan contoh (sample) dan apabila nilai ambang (threshold) tercapai kesulitan yang dihadapi adalah memobilisasi peralatan saat melaksanakan perlakuan untuk keseluruhan areal, sekalipun penyemprotan melalui udara.
4.2.   Konsep threshold akan menjadi sulit untuk diterapkan pada lahan sempit  dengan pertanaman campuran, karena threshold untuk pertanaman campuran tidak bisa.

Monitoring Cuaca
Bedasar jangka pendek, cuaca dapat menentukan pemilihan taktik.  Contoh, angin yang tinggi akan membatasi aplikasi berbagai pestisida,  tanah basah akan membatasi penggunaan peralatan berat di lapang, turunnya hujan yang diikuti pengolahan tanah akan meniadakan pengelolaan gulma, turunnya hujan segera setelah aplikasi pestisida di daun akan mencuci pestisida dari permukaan daun sebelum pestisida tersebut bekerja.
Bagi OPT yang perkembangannya sangat cepat akan menyebabkan terjadinya infeksi, tetapi yang periode inkubasinya panjang (seperti scab pada apel atau hawar daun pada kentang), monitoring untuk gejala yang tampak adalah tidak dapat digunakan.  Bagi pathogen semacam ini pilihan monitoringnya adalah kondisi lingkungan dan kondisi yang dapat dideteksi, seperti suhu dan kelembaban yang tepat, kondisi tersebut sangat sesuai untuk terjadinya infeksi.
Monitoring cuaca juga penting bagi pengelolaan hama karena factor tersebut dapat mempengaruhi laju perkembangan hama.  Kecuali mamalia,  semua hama adalah berdarah dingin (poikilothermic) dan oleh karena itu suhu akan mengatur laju perkembangannya.  Prediksi laju perkembangan populasi  menjadi lebih penting untuk pengambilan keputusan dalam IPM dan monitoring cuaca juga menjadi bagian integral dalam pengembangan program IPM.  Data kondisi cuaca dapat diperoleh dari alat pencatat yang dipasang di pertanaman.

Model untuk Peramalan
Kemampuan menggunakan data cuaca untuk memprediksi perkembangan populasi dan outbreak hama telah banyak disempurnakan melalui pengembangan model computer.  Model tersebut dapat menggabungkan pengetahuan biologi hama dengan informasi cuaca spesifik untuk memprediksi kapan aktifitas pengelolaan akan diperlukan.  Model tidak merekomendasi taktik yang digunakan.  Data cuaca yang digunakan saat ini adalah :
1.      Model perkembangan serangga berdasar degree-day yang menggunakan data dari perangkap feromon untuk menentukan biofix (set or start) point
2.      Model suhu dan kelembaban (durasi basah) yang memprediksi periode infeksi pathogen.

Standard Kosmetik
Standard kosmetik terbentuk karena sikap masyarakat terhadap adanya organisme hama dalam makanan atau kerusakan dan noda yang disebabkan hama, sehingga kualitas hasil dan nutrisi suatu komoditi tidak dapat diterima.  Keberadaan standard kosmetik disebabkan konsumen tidak suka membeli produk yang terinfestasi serangga, atau yang menunjukkan adanya noda yang kecil sekalipun.  Standard kosmetik menghasilkan tidak dapat diterimanya kehilangan pada tingkat luka yang sangat rendah dibandingkan kehilangan hasil yang sebenarnya.  Toleransi yang rendah tersebut menunjukkan bahwa teknik monitoring tidak dapat digunakan karena kerusakan kosmetik akan terjadi pada saat hama terdeteksi.  Dalam kasus yang demikian taktik pengendalian diimplementasikan sebelum hama terdeteksi (contoh, melakukan penyemprotan terjadwal), atau ketika pertama kali ditemukan hama atau kerusakan.  Bentuknya lebih cenderung sebagai perlakuan yang bersifat pencegahan.

Menilai Resiko/Keamanan
Dilema penilaian resiko untuk pengelolaan hama ditunjukkan pada gambar berikut,


Grafik tersebut menunjukkan satu spesies hama pada tiga tanaman yang berbeda.  Pada tanaman (a), populasi hama meningkat secara cepat; pada tanaman (b), peningkatannya moderat saja; dan pada tanaman (c), peningkatannya minimal.  Grafik tersebut juga dapat menggambarkan tiga hama yang berbeda pada satu spesies tanaman, dengan meningkatnya  secara cepat populasi hama pada tingkat yang tinggi, hama (b) meningkat kurang cepat; dan hama (c) meningkat pada level yang rendah saja.  Situasi untuk populasi (c) relative mudah untuk dinilai; tidak ada tindakan yang diperlukan dan monitoring akan menunjukkan baik secara statistic, atau damage threshold terlampaui,  populasi berhenti meningkat sebelum mencapai tingkatan Economic Threshold (ET).  Situasi hama (a) juga relative mudah dinilai karena populasi meningkat secara cepat pada tingkat ET, dan proyeksinya menunjukkan bahwa EIL terlampaui.  Situasi hama (b) menyulitkan dalam pengambilan keputusan, dan kemungkinan merefleksikan situasi bagi kebanyakan hama.  Pada saat ET terlampaui, pengelola harus memutuskan untuk memulai tindakan.  Secara teori contoh dalam gambar b di atas, tidak diperlukan tindakan, tetapi kesimpulan tersebut tidak jelas.  Pada saat ET tecapai, situasinya tidak jelas apakah populasi akan terus meningkat.   Pengalaman akan memegang peranan penting dalam tipe situasi seperti itu.  Banyak pengelola akan menemui resiko perlakuan yang sedang dilaksanakan tidak dapat diterima, khususnya untuk tanaman sayuran yang nilai ekonomisnya tinggi. 

Ekonomis
Dalam menetapkan kehilangan ekonomis dan keuntungan dari hasil monitoring dan penggunaan threshold adalah sangat sulit.  Situasi yang kerapkali muncul, dimana threshold yang dikembangkan secara teori dalam kondisi terkendali, ternyata sulit untuk diimplementasikan di lapangan. Alasan ekonomis terhadap kesulitan tersebut adalah sbb.
1.      Bila biaya monitoring adalah sama dengan biaya perlakuan, maka perlakuan kemungkinannya akan dilakukan tanpa monitoring.  Kasus tersebut banyak ditemukan pada komoditi yang nilai ekonomisnya rendah,  dimana perlakuan yang dibuat relative rendah biayanya, seperti penyemprotan herbisida phenoxy untuk mengendalikan gulma berdaun lebar pada tanaman serealia.
2.      Ketidak pastian kehilangan ekonomis yang disebabkan oleh serangan lebih dari satu hama adalah merupakan masalah.  Dalam situasi yang demikian, banyak analisis ekonomis spesies tunggal yang tersedia mungkin tidak menggambarkan kehilangan hasil yang dialami  sebenarnya oleh petani.  Permasalahan tersebut memperlambat adopsi IPM di berbagai agroekosistem.
3.      Nilai ekonomis komoditas mungkin berubah antara waktu dimana keputusan pengelolaan dibuat dan komoditas dipanen.  Antisipasi keuntungan dari tanaman menentukan berapa banyak investasi dalam pengendalian hama dapat diterima.  Hal ini khususnya bagi sayuran yang dipasarkan dalam bentuk segar, dimana situasi harga pasar dapat secara cepat berubah.  Sebagai contoh, keputusan untuk tidak melakukan perlakuan pada lettuce  minggu ini ternyata mendatangkan kerugian jika nilai tanaman dua kali lipat 10 hari berikutnya pada saat panen.  Permasalahan semacam ini tidak mudah untuk dijawab, dan banyak petani serta penasihat pengendali hama yang sifatnya sangat berhati-hati.  Masalah ini juga memperlambat adopsi IPM.
Pada semua kasus yang dibahas di atas, biaya dan keuntungan terhadap lingkungan tidak dipertimbangkan.  Tujuan utama system IPM advanced adalah memasukkan biaya dan keuntungan terhadap lingkungan dan aspek social kedalam persamaan EIL.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar